ARTIKEL AKSI NYATA

“ASESMEN DIAGNOSTIK DAN ANGKET KESUKACITAAN, KEPUASAN DAN HARAPAN SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN KIMIA                                             YANG NYAMAN DAN MENYENANGKAN SELAMA PANDEMI                    

 

PGP-1-Kabupaten Banyumas-Wikanti Nur Amaliyah-1.1-Aksi Nyata

 

A.   LATAR BELAKANG

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak murid yang beranggapan bahwa mata pelajaran kimia sebagai mata pelajaran yang sulit. Hal ini dikarenakan banyak hal yang dipelajari bersifat abstrak.  Beberapa penelitian menyatakan bahwa sebagian besar ilmu kimia bersifat abstrak, ilmu kimia merupakan penyederhanaan dari yang sebenarnya dan lahir sebagai hasil usaha kegiatan manusia berdasarkan suatu metode ilmiah. Ilmu kimia lahir dari keinginan para ahli kimia untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan “apa” dan “mengapa” tentang sifat materi yang ada di alam, yang masing-masing akan menghasilkan fakta dan pengetahuan teoritis tentang materi yang kebenarannya dapat dijelaskan dengan logika matematika.        

Kondisi tersebut menyebabkan murd sering mengalami kejenuhan dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus dapat menciptakan pembelajaran kimia yang nyman dan menyenangkan. Hal ini dilandasi oleh perubahan paradigma pendidikan, bahwa pendidikan adalah proses menuntun kodrat murid untuk memperoleh kebahagiaan setinggi-tingginya, sehingga dalam proses pembelajaran guru diharapkan memahami kodrat alam dan kodrat zaman murid. Kodrat alam adalah segala potensi yang dimiliki murid, kerapkali kodrat alam pada diri murid tidak nampak karena berbagai faktor. Dampak yang muncul apabila kodrat alam tidak terpetakan adalah guru akan menganggap setiap murid adalah sama, sehingga proses pembelajaran baik metode, media, pendekatan, strateginya pun akan sama, padahal setiap murid memiliki keunikan tersendiri, penyamarataan dalam pendidikan bisa berbahaya bagi perkembangan psikologi dan motivasi murid dalam belajar.

  SMA Negeri 2 Purwokerto yang terletak di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, merupakan sekolah yang favorit. Namun kondisi nyata pada saat pembelajaran adalah murid cenderung bosan dan mengantuk karena sudah terbebani dengan tagihan tugas-tugas yang diberikan sebagain besar guru pada malam harinya. Hal ini berdampak pada motivasi belajar murid yang cenderung rendah. Kondisi ini menuntut guru untuk berpikir ekstra menyajikan materi agar mudah diterima dan dapat memecah kebosanan murid. Namun sayangnya, sering kali guru hanya memikirkan bagaimana menemukan metode yang terbaik, guru sering kali lupa bahwa dalam satu kelas terdapat beragam jenis murid, sebuah metode mungkin cocok untuk sebagian murid tetapi belum tentu cocok dengan kelompok murid lain. Guru yang baik tentu harus mampu memberikan pelayanan bukan pada sebagian murid namun setiap murid harus terlayani, sebagai salah satu wujud dari komitmen untuk “menghamba pada murid” dan dalam upaya mencapai proses pembelajaran yang berpihak pada murid (student centered).

 

B.   DESKRIPSI AKSI NYATA

Berlandaskan pada kondisi yang telah diuraikan dalam latar belakang, maka sebelum menemukan metode yang paling tepat, guru perlu menemukenali kodrat alam, yang terjabarkan dalam minat dan bakat. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tersebut di atas adalah dengan melakukan asesmen diagnostik  kognitif dan angket kesukacitaan, kepuasan dan harapan pada pembelajaran kimia. Oleh sebab itu, dalam aksi nyata ini penulis membuat asesmen diagnostik kognitif yang terdiri dari 10 soal gabungan dari 6 soal materi pada semester sebelumnya, 2 soal materi yang sudah dipelajari pada semester berjalan dan 2 soal materi yang akan dipelajari berikutnya. Kemudian penulis membuat angket kesukacitaan, kepuasan dan harapan terhadap pembelajaran kimia. Kedua instrumen ini untuk memetakan segala informasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan pembelajaran, terutama pembelajaran pada masa pandemi seperti saat ini.

Pada asesmen dignostik kognitif, dirancang untuk menggali kemampuan kognitif murid terhadap materi pada semester sebelumnya, materi yang sudah dipelajari sebelumnya di semester berjalan dan materi yang akan dipelajari berikutnya.

Sedangkan angket yang penulis rancang berisi penggalian informasi yang meliputi:

1.    Perasaan ketika akan, saat dan setelah mengikuti pembelajaran

2.    Hal yang dipikirkan ketika akan,saat dan setelah mengikuti pembelajaran

3.    Pendapat tentang materi, media, teknik mengajar, penilaian, tugas-tugas, dan forum diskusi dalam pembelajaran

4.    Pendapat tentang hubungan guru dan murid

5.    Pendapat tentang pembelajaran selama pandemi termasuk kelebihan dan kekurangannya

6.    Harapan terhadap pembelajaran di masa mendatang

Alasan mengapa memilih untuk melakukan asesmen diagnostik kognitif dan angket kesukacitaan, kepuasan dahn harapan terhadap pembelajaran kimia karena hal semacam ini tidak pernah sama sekali dilakukan sebelumnya, sehingga mayoritas guru mengajar tidak menggunakan data mengenai minat, bakat, dan gaya belajar murid, semua murid disamaratakan. Dengan adanya hasil dari pemetaan ini diharapkan guru menjadi memiliki arah dan dasar dalam menyusun pembelajaran yang berpihak pada murid, sehingga murid dengan kakan merasa nyaman dan senang ketika mengikuti pembelajaran. Penulis di awal aksi nyata ini hanya mengambil sampel kelas XI MIPA, harapannya setelah sekolah memperoleh informasi ini, dapat dikembangkan pemetaan yang lebih rinci untuk semua tingkatan dan semua jurusan (peminatan), sehingga sekolah benar-benar memiliki data yang valid dalam rangka memberikan pembelajaran yang berpihak pada murid.

 

C.   HASIL DARI AKSI NYATA

Hasil dari aksi nyata yang dilakukan tentu saja berupa pemetaan dan analisis sederhana dalam bentuk diagram yang menunjukkan kondisi sesungguhnya. Berikut hasil dari analisis sebelum diolah menjadi diagram.

            Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Asesmen Diagnostik Kognitif

No.

Keterangan

Kelas XI MIPA 6

Kelas XI MIPA 7

Kelas XI MIPA 8

1

Jumlah Murid

36 orang

36 orang

36 orang

2

Jumlah yang Mengikuti

34 orang

30 orang

33 orang

3

Perolehan Nilai >= 70

25 orang

25 orang

25 orang

4

Nilai Tertinggi

100

100

100

5

Rerata Nilai

65,4

70,0

64,8

                        Berdasar tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan kognitif murid kelas XI MIPA 6, XI MIPA 7, dan XI MIPA 8 adalah cukup baik. Namun secara rata-rata, hanya kelas XI MIPA 7 yang telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal.

                        Ditinjau dari keikutsertaan dalam mengikuti asesmen diagnostik kogintif, diperoleh data bahwa persentase kelas XI MIPA 6 sebesar 94,4%, XI MIPA 7 sebesar 83,3% dan XI MIPA 8 sebesar 91,6%. Berdasarkan data ini maka dapat disimpulkan bahwa keikutsertaan kelas XI MIPA 7 paling rendah, namun kemampuan kognitifnya paling tinggi. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh tingkat kebosanan mereka terhadap pembelajaran daring yang telah dilakukan selama satu semester.

                        Sedangkan pengisian angket kesukacitaan, kepuasan dan harapan terhadap pembelajaran kimia dari jumlah murid yang mengisi sebanyak 90 orang diperoleh hasil sebagai berikut.

            Tabel 2. Hasil Angket Kesukacitaan Murid terhadap Pembelajaran Kimia

No

Jenis Pertanyaan

Jumlah Kurang Senang

(orang)

Jumlah Senang (orang)

Jumlah Sangat Senang (orang)

1

Perasaan ketika akan mengikuti pembelajaran

30

36

24

2

Perasaan ketika sedang mengikuti pembelajaran

32

32

26

3

Perasaan ketika selesai mengikuti pembelajaran

20

34

36

4

Hal yang dipikirkan ketika akan mengikuti pembelajaran

30

36

24

5

Hal yang dipikirkan ketika sedang mengikuti pembelajaran

35

27

28

6

Hal yang dipikirkan ketika selesai mengikuti pembelajaran

30

25

35

Jumlah (Persentase)

32,7%

35,2%

32,0%

                        Berdasar Tabel 2, data menunjukkan bahwa sebagian besar murid merasa senang ketika mengikuti pembelajaran. Namun persentasenya tidak signifikan, artinya tingkat ksukacitaan murid dalam kategori berimbang antara kurang senang, senang dan sangat senang.

                        Adapun kepuasan murid terhadap pembelajaran kimia tersaji dalam tabel berikut.

            Tabel 3. Hasil Angket tentang Kepuasan Murid terhadap Pembelajaran Kimia

No

Jenis Pertanyaan

Jumlah Kurang Puas

(orang)

Jumlah Puas (orang)

Jumlah Sangat Puas

(orang)

1

Pendapat tentang materi  pembelajaran

24

36

30

2

Pendapat tentang media pembelajaran

32

32

26

3

Pendapat tentang teknik mengajar dalam pembelajaran

35

31

24

4

Pendapat tentang penilaian dalam pembelajaran

30

32

28

5

Pendapat tentang tugas-tugas dalam pembelajaran

32

36

22

6

Pendapat tentang forum diskusi dalam pembelajaran

20

35

35

7

Hubungan guru dan murid

30

36

24

8

Pembelajaran selama pandemi termasuk kelebihan dan kekurangannya

38

32

20

Jumlah (Persentase)

33,8%

37,5%

28,7%

 

                        Sedangkan hasil angket tentang harapan murid terhadap pembelajaran kimia di masa mendatang dari jumlah responden sebanyak 90 orang telah diperoleh data seperti pada berikut.

            Tabel 3.Data Harapan Murid terhadap Pembelajaran Kimia

No.

Harapan murid terhadap pembelajaran kimia                              di masa mendatang

Jumlah (orang)

Persentase (%)

1

Hubungan guru dan murid lebih dekat

78

86,6

2

Pembelalajaran tatap muka daring dan luring

90

100

3

Cara mengajar dan media lebih ditingkatkan

82

91,1

4

Lebih mudah memahami materi pelajaran dengan video atau tatap muka secara langsung

50

55,5

5

Pembelajaran jarak jauh dengan LMS lebih menyenangkan

38

42,2

 

D.   PEMBELAJARAN DARI PELAKSANAAN

Banyak pembelajaran yang diperoleh setelah memetakan hasil asesmen diagnostik kognitif dan angket kesukacitaan, kepuasan dan harapan murid terhadap pembelajaran kimia, di antaranya adalah:

1.    Kemampuan kognitif murid sudah baik secara individu maupun klasikal.

2.    Selama ini guru masih belum berpihak pada murid dalam melaksanakan proses pembelajaran

3.    Sebagian besar murid ternyata mengalami kebosanan yang luar biasa terutama dengan pembelajaran daring selama pandemi

4.    Murid begitu mendambakan pembelajaran yang menyenangkan, tidak monoton, dengan kreativitas dan inovasi dari guru yang asyik dan penuh kesan

5.    Sebagian besar murid memiliki harapan bahwa pembelajaran dapat dilaksanakan secara tatap muka baik daring maupun luring

 

E.    RENCANA PERBAIKAN

Setelah mengetahui hasil asesmen diagnostik kognitif dan memetakan angket, kemudian rencana selanjutnya adalah hasil tersebut harus disampaikan secara terbuka kepada setiap stake holder di sekolah dan guru lain secara umum. Harapan penulis, hasil pemetaan ini menjadi dasar bagi sekolah untuk merumuskan arah pengembangan kurikulum kedepannya, dan bagi guru dapat dijadikan sebagai acuan untuk memperbaiki proses pembelajaran ke depannya. Pada dasarnya setiap guru tentu menginginkan pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan dan terkenang selamanya bagi muridnya.Oleh karena itu di masa mendatang guru akan melakukan perbaikan pada proses pembelajarannya karena mengetahui terlebih dahulu setiap bakat, minat, perasaan, dan harapan murid. Walaupun memerlukan waktu yang lama, namun secara berlahan dan berkesinambungan, apabila setiap guru telah bergerak maka sekolah pun akan ikut bergerak. Dengan demikian, pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan akan terwujud dengan baik di sekolah.

 

F.    DOKUMENTASI KEGIATAN

 

Gambar 1. Pemberitahuan Asesmen Diagnostik di WAG Kelas

Gambar 2. Pemberitahuan Pengisian Angket di WAG Kelas

Gambar 3. Tampilan Asesmen Diagnostik Kognitif di LMS

Gambar 4. Tampilan Angket di LMS

Gambar 5. Tampilan Pembukaan Asesmen Diagnostik Kognitif di LMS

Gambar 7. Tampilan Soal Asesmen Diagnostik Kognitif di LMS

Gambar 8. Tampilan Hasil Asesmen Diagnostik Kognitif di Ms. Excell

Gambar 9. Tampilan Angket di Google Form

Gambar 10. Hasil Angket di Ms. Excell

 

 

Komentar